Aku perlu menemuimu, apakah ada yang baru darimu? Yang hidup dan terus tumbuh, mulai dari rambut hitam kenarimu, basah telapak tanganmu, dan nyamannya bahumu.
Aku perlu menemuimu, ada rindu yang malu kusampaikan lewat pesan singkat. Ada rindu mencium wangi parfummu yang menyengat, jauh sebelum kita berjalan mendekat. Ada rindu ketika bibir kita begitu lekat, dekat setelah kita berpeluk hangat.
Aku perlu menemuimu, ada suka yang sukar menerima kita, ada luka yang belum kau buka dari masa lalu kita.
Aku perlu menemuimu, agar aku mengerti apa itu waktu, sesuatu yang sering kau ucap, “Yang Lalu Biarlah Berlalu, Yang Baru Ayo Kita Melaju”.
Aku perlu menemuimu esok hari, agar lusa aku dapat merindukanmu, lagi.
Cinta.
Aku pernah menulis namamu di kaca jendela. Walau tanpa tinta, namun lekuknya masih terlihat jelas oleh mata.
Cinta.
Aku juga pernah mengukir namamu di meja kayu, sampai ibu memarahiku dengan ketus dan nada melayu.
Oh iya, Cinta. Apa kamu masih ingat dengan kesukaanku? Secangkir teh manis hangat yang lupa tak kau aduk dulu? Aku rindu saat itu. Di sudut Kota yang dingin dan jauh dari bising, kita saling meramaikan dengan gelak tawa yang tak asing.
Cinta, ternyata aku sedang melamun. Hahaha. aku senang melamun, Cinta!
Aku juga senang ketika kita saling bertatap muka. Seolah aku dan kamu mengerti apa yang diinginkan hati sebelum kita merombak masa.
Kau tahu, apa itu Cinta?
Ya, itu namamu. Nama yang kupakai untuk memanggilmu ketika kita masih bersama.
Rumahmu; menjulang tiang-tiang tinggi.
Pagarnya subur nan hijau.
Kutemuimu di persimpangan mimpi.
Sepi diri berselimut galau.
Ciumanmu di pipi sebelah kiri.
Tamparanmu di pipi sebelah kanan.
Yang ku-tahu
Semua berawal dari mimpi — berakhir dengan kenyataan.
Rindu; seperti kapal-kapal besar di tengah laut. Diterjang gelombang ombak, dan aku seperti nakhoda yang sibuk mencari tempat berlabuh.
Tak perlu kau rindui aku juga, asal kau cukup kau mau, menerima janji di pelabuhan mana kita akan bertemu.
Ah, hujan tak mau mereda.
Saat siang sigap menyambut senja,
Lagu rindu rela tak bernada.
Saat itulah kata rindu perlahan ku eja.
Ah, rindu semakin menggebu,
Kala hujan tak berdebu.
Sepi setia menemani rindu tanpa malu
Saat itulah hati merasa pilu.
Ah, mimpi terasa ramai
teramaikan oleh bayangmu yang tak mau redup,
Hati tak pernah mau berdamai
Ketika kisah kita ingin kau tutup.
Ah,
